Sabr

Ketika ritme hidupmu belum sesuai dengan apa yang ideal dalam rencanamu, bersabarlah dan cobalah untuk lebih dewasa dengan sedikit saja berdamai dengan keadaan.

Berdamai dengan keadaan berarti kamu berdamai dengan dirimu sendiri, sembari yakin bahwa saat ini Allah tidak menyuruhmu untuk berputus asa dengan rencana-rencana dan impian mu.

Mungkin kamu disuruh untuk bersabar, belajar dengan segala hal yang belum sesuai rencanamu (jauh dari standar idealmu).

Semoga dengan sabarmu itu akan mengantarkan pada moment dimana kamu mampu membuat keputusan-keputusan yang mengantarkan mu pada goal dan keadaan yg lebih baik.. semoga.

Don’t lose any hope..!

Sosok cantik itu kini…

Diantara kita berempat kmu adalah sosok yg paling jarang menangis..
Hatimu tegar, jiwamu tegar,
Ada kalanya aku diam-diam tahu saat kmu sedih dan kesepian, atau marah dgn keadaan..
Namun lagi-lagi aku bukan kakak yg baik, yg layak dijadikan tempatmu bersandar bercerita, aku hanya diam karena kita tak sedekat itu untuk berbagi kepahitan atau sekedar saling menyembuhkan masing-masing luka di dalam hati, justru seringnya kita menjadi ‘rival’ dalam banyak hal.

Akhirnya kita hanya sibuk berusaha menyembuhkan luka di hati kita masing-masing..
Bahkan akupun terlalu pengecut untuk datang dan saling memberi kekuatan.
Karena…Sejujurnya aku pun tak lebih kuat dari kamu, dari kalian adik-adikku.

Kalian luar biasa tegar, kalian bisa tertawa dan bercanda di tengah-tengah ujian kepahitan..
Bahkan kalian berusaha keras untuk mencintai sesuatu yang sebetulnya sudah sangat sulit untuk dicintai.

dengan banyaknya episode suka duka hidupmu, di kehidupan yg 23 akhirnya kmu menemukan sosok laki-laki yg menjadi pintu syurga mu yang baru..
semoga padanya kmu menemukan sosok pembimbing, yang terus sabar mengarahkanmu dan mengajakmu menjadi pribadi yg lebih baik, menjadi wanita sholihah…istri sholihah untuknya.

Di saat terpenting dalam hidupmu, wanita setegar dirimu ternyata tetap menitikkan air mata..

kamu menangis di hadapan buku nikahmu.. tepat seusai aku mengantarkanmu turun dari lantai dua masjid tempatmu melangsungkan akad nikah.
Aku penasaran apa yang ada dalam hatimu saat itu,
Aku hanya bisa menebak-nebak,
Pasti banyak rasa haru memenuhi dadamu saat itu,
Mungkin juga ada rasa lega yg bercampur disana, karena akhirnya kmu tidak lagi menjadi wanita yang selalu sendiri.

Tidak, mungkin setelah menikah kamu akan tetap menjadi sosok tegar, sosok kuat, sosok cantik yang hampir tidak pernah menangis di hadapan keluarga. Namun setidaknya aku tau kmu tak lagi harus berjalan sendirian.. bergelut dengan kerasnya kehidupan.
Ada dia yg sudah membersamaimu berjuang, ada dia yang bertanggungjawab menafkahimu, mendidikmu, membimbingmu, mengasihi dan mencintaimu.
ada dia yang bisa jadi tempat saling berbagi, ada dia yang kini menjadi pintu syurga bagimu.

Semoga dia bisa menjadikanmu wanita yang semakin dekat kepada-Nya.
Semoga setelah ini perih dan luka di hatimu perlahan sembuh dan hilang, biarlah luka-luka itu sembuh dan berganti menjadi kenangan hidup, sebagai saksi bisu yang menjadikanmu setegar sekarang.

Betapa beraninya dirimu, betapa mantapnya hatimu ketika kamu memutuskan untuk menikah..
Aku salut padamu, mungkin itu sebabnya kmu pun bisa terlebih dahulu dipertemukan Allah dengan dia jodohmu..
Karena ternyata tak semudah itu berkata yakin.
Tak semudah itu melangkah maju sambil melepaskan bayang-bayang ketakutanmu sendiri.
Tak semudah itu kmu melupakan cuplikan-cuplikan pahit yang kau rasakan sendiri tentang rumah tangga.
Aku tahu.. meski tak mudah, namun bukan berarti tak mungkin. Bukan berarti aku tak bisa.
Aku punya do’a, aku punya asa.. yang selama ini Allah lah yang jadi pendengar setia..

Semoga Allah senantiasa membimbingmu agar tahun-tahunmu selanjutnya dihiasi hal-hal yang membuatmu tersenyum.
Tersenyum dalam kebahagiaan maupun ujian bahtera rumah tanggamu.
Tersenyum bertabur keberkahan yang Allah berikan untukmu dan keluarga kecilmu..

Untuk adikku Khowla Karimah dan Fitrah
Barakallahulaka wabaraka ‘alaika wajama’a baynakuma fii khair😇❤

On the Way..

Selasa petang menuju malam..
Commuter line terus melaju, stasiun demi stasiun disinggahi hingga rangkaian gerbongnya tiba di stasiun manggarai.
Manusia-manusia menyeruak masuk dan seketika gerbong empat tempatku duduk penuh, namun tidak sampai berjubelan ala cendol seperti biasanya.
Ah.. hari ini sepertinya aku diberikan kesempatan bernafas lebih leluasa di dalam gerbong, Alhamdulillah.., batinku.
Perlahan rangkaian gerbong meninggalkan Manggarai… Terus bergerak menuju Jatinegara.
Saat tiba di Jatinegara, kembali manusia-manusia masuk memenuhi gerbong empat. Meski keadaan gerbong mulai penuh, sambil terpejam dengan muka tertutup masker, aku masih dapat merasakan AC gerbong berhembus kencang menerpa sebagian wajahku yang tidak tertutup masker.

Saat itu.. aku merasa seharusnya aku bisa bernafas lebih leluasa karena posisiku duduk, dan keadaan gerbong sangat manusiawi ketimbang kemarin Hari Senin.
Namun dadaku sesak, sesaknya terus menohok sampai tenggorokan, naik ke saluran mulut dan hidung, lalu ke mata.
Masih dalam situasi terpejam, aku merasakan kelopak mataku panas, lalu bulu mataku basah.
Aku semakin merapatkan masker wajahku, menutupi seluruh hidung dan menaikkannya ke arah mata.
Jangan sampai ada yang melihat mataku.

Aku tak berani membuka mataku, dadaku masih sesak, nafasku sulit, dan mataku terasa sangat hangat.
Kali ini aku tak akan meronta, kubiarkan semuanya, kunikmati perasaan ini, kuterima jiwaku yang mungkin sedang lelah dan sedih.
Wahai diri, aku mengerti apa yg kau rasakan..
Tak apa-apa, mari kita hadapi bersama-sama!
Wahai jiwa, kali ini aku akan mendengarkan setiap perasaan yang ingin kau bicarakan. Aku tak akan mengabaikanmu, apalagi membencimu.
Aku tau ada saatnya kita jujur dan mengaku lemah untuk besok bisa menjadi lebih kuat,
Aku paham kali ini kau ingin mundur sedikit agar besok kita kuat berlari lebih lama.
Aku akan menemanimu, membersamaimu, dengan begitu kita tetap kuat karena melewatinya bersama.
Semua ini hanya sementara.
Kita hanya perlu menikmati dan merasakan prosesnya sebentar saja. Agar saat ini di masa depan akan menjadi bagian dari perjalanan kita, proses hidup yang sejatinya untuk bertumbuh dan melakukan yang terbaik di mata Nya, Dia yang memiliki kita; diriku begitu juga jiwaku.

“Verily, with every hardship, there is ease”.
[Qur’an 94:6]

Flashback

2017.

Bersamanya aku menjalani sebuah fase.
Sebuah Perjalanan.
Bisa disebut dengan perjuangan,
Belajar tentang kesabaran,
Menerima dengan keikhlasan,
Belajar berbaik sangka,
Menikmati titik kepasrahan dan tawakal yg sejati..

Ada dua moment yang paling tak terlupakan selama tahun 2017.

Kenapa tak terlupakan?

Karena dua moment ini adalah kedua peristiwa yang paling nano-nano rasanya, dan dari segala hal yang aku rasakan ketika mengalaminya akhirnya hal itu menjadi titik balikku untuk benar-benar berkata lirih “Laa haulaa walaa quwwata ilaa billaahil’aliyyil ‘adzim..”.

Moment pertama, saat aku wisuda di pertengahan tahun 2017.

Alhamdullah ‘ala kulli hal.. hari yang bersejarah dan sangat spesial untukku saat itu.

Hari dimana aku bisa memetik hasil sekian panjang dari perjalanan pahit-manis sebelumnya (mulai dari persiapan, seminar proposal, penelitian, pengerjaan yang super panjang dramanya sampe nyaingin drama korea 21 eps 😆, sidang skripsi, perjuangan ikut yudisium, sampai akhirnya wisuda).

Hari dimana aku memasuki sebuah gerbang baru, welcome to the jungle! (jungle beneran nih kayak yg gue rasain sekarang😂)

tentunya hari dimana aku menjadi pusat perhatian keluargaku 🙂

Dan hari dimana aku merasakan limpahan keberkahan karena banyak yang tersenyum menyalamiku dan memelukku sambil melontarkan doa-doa. Semoga segala kebaikan yang mereka doakan untukku kembali pada kalian yg mendoakan❤

That was unforgettable day ever💕💕

Moment kedua,

Saat aku memberanikan diri melakukan sesuatu untuk yang pertama kalinya (dan inshaAllah sekaligus untuk yang terakhir kalinya juga hahahaa, i promise).

Saat itu entah.. aku betul2 memberanikan diri melakukannya setelah istikharahku yg entah keberapa kalinya. Dan melalui keputusanku itu pula aku mendapatkan jawaban dari Allah.

Jawaban yang mendidikku dan mengajarkanku bahwa manusia hanya bisa berupaya, namun tak boleh dilupa bahwa Allah is the best planner. Dari kejadian itu pula aku belajar bahwa sekuat apapun kita, tetap saja upaya manusia sangat terbatas, dan hanya kepada Nya kita memohon segala kekuatan.

Maybe at that time it was a shocking experience for me, but now.. when i’m decided to go ahead and move on, it’s not as bad as i thought.

I tried to became a person who was not over thinking about it.
I learned to understand that everything will happen in the best way as long as we work on it.
And maybe what i should did at that point is sincere, not forcing myself. And surrendered my 100% trust to Him.
-Tawakkal-

Kejadian tersebut adalah sebuah momentum pengalaman batin yang tak banyak aku ceritakan secara lisan kepada siapa2 ketika itu.

Setelah kedua kejadian itu, aku belajar, aku menyadari pada akhirnya apapun yg terjadi selama kita selalu melibatkan Allah di hati, akan ada kekuatan yg tak terhingga untukku bertahan, sungguh sesulit apapun rasanya.

Terimakasih 2017, sudah menjadi bagian dari proses pendewasaanku, prosesku memperbaiki diri,
Memantaskan diri, dan prosesku menuju masa depan yg aku cita-citakan.
Terimakasih Allah atas setiap detik nafas yg hingga saat ini masih Engkau beri kesempatan untukku.

Let’s keep growing and don’t lose any hope^^

Coret-coret lagi; after a Hiatus for so long

Honestly akhir-akhir ini banyak ide-ide buat nulis tapi pas mau dibawa nulis tiba-tiba buntu.

Bingung harus cerita dari mana, mulai dari mana. Banyak banget yang terjadi. Ada hal-hal yang sengaja ngga akan mau aku rekam dalam tulisan disini, padahal rasanya pengen banget cerita numpahin semua uneg-uneg nya. But i am determined to keep it myself, sedang belajar ikhlas dengan cara yang paling mudah bagi diri sendiri ceritanya HAHA.

Ada juga hal-hal yang pengen banget aku tuangkan disini, tapi pas mau nulis nge stuck banget.

Haha capek deh.

Btw, congratulations for my self!!^^~

Udah dua bulan terakhir ini aku menjalani “real life“. Dimana ketika kamu ngga melakukan apapun bakalan kerasa banget kalau kamu seorang yang ngga guna. Kalau dulu alasannya masih bisa lagi fokus ngerjain skripsi. Bertapa berminggu-minggu. Kalau ada yang ngajakin main mikir-mikirnya bisa 10x mikir..

Saat itu mikirnya ngga papalah sekarang jangan seneng-seneng dulu, abis lulus kan bisa. Eh ternyataa abis lulus mikirnya bisa 2x lipat hahaha lol!!

sekarang? Rasanya tiba-tiba siklus agendaku berubah.

Aku yang setiap hari keluar sekarang berubah jadi anak yang paling fleksible, paling siaga di rumah bahkan paling sering jaga kandang alias home alone. Aku tibatiba berubah gitu jadi emak-emak rumah tangga yang ngurusin adek ketika ortu hampir seminggu keluar kota. Anter jemput sekolah dan nyapu ngepel (kalau ini seperti biasa), beres-beres sampai jemur baju, dan yang paling sebel adalah ngontrol adek makan-waktu tidur-dan bangunin subuh. Menguji kesabaran banget dan dari situ jadi sadar juga betapa aku masih jauh dari penyabar T.T huks!
Tapiii terlepas dari semua itu aku sadar nanti aku bakal menjalani keseharian itu setiap hari untuk waktu yang amat lama.

Aku selalu berpikir aku harus membiasakan diri dari sekarang untuk merasa senang dan enjoy selalu stay di rumah dengan berbagai macam tugas di dalamnya. Untuk kebaikanku jugaa, untuk aku terapkan nanti ketika sudah berkeluarga sendiri. (Pembenaran banget sih hahaha)… Pada dasarnya aku juga anak rumahan sih .__. yang bisa melakukan banyak jenis metime hanya di rumah😅

Artinya… Ya aku tak ingin menjadi perempuan yang ngga betahan di rumah, pulang bentar pengen jalan, kaki nya gatel pengen main terus, bawaannya mau hang out. Terlepas nantinya akan jadi IRT ataupun ibu bekerja.

Abis ini rencanya bakal pelan-pelan ngerjain rencana-rencana selanjutnya. Bismillah, kalau dikerjaiin meskipun satu per satu pasti bakal kelar. Yang penting tetap berproses dan berprogres. Semoga dikuatkan, dijauhkan dari rasa mager, Allah mudahkan dan beri yang terbaik untukku dan untuk kalian semua yang sedang berjuang juga. 힘내!!😊

Only Hope

Allahumma musharrifal quluub, sharrif quluubanaa ‘ala tho’atik🙏

“karena setelah beriman, akan selalu ada istiqomah yg di pertanyakan”

begitu tagline sebuah film yg meskipun sudah cukup lama ku tonton namun hingga kini begitu terus terngiang di kepalaku.

Kadangkala kita lengah, kadangkala kita lalai, kadangkala kita khilaf😭 namun niscaya kita tau, Allah yang Maha Pemaaf selalu menunggu kita kembali.

Berulang kali aku rasakan, saat hanya Dia satu-satunya dan selalu menjadi tempat aku kembali…ah, rasanya tak perlu menunggu waktu lama untuk merasakan ‘keajaiban’-Nya. Ketenangan, kesakinahan setelah duka yg kurasakan bukti nyata betapa Dia Maha Penyayang. Betapa Dia menyayangiku melebihi siapapun di jagad raya ini😄

Begitu aku pun merasa bersalah, karena sesungguhnya tak layak jika aku hanya menjadikan-Nya tempat berpulang. Seharusnya aku *selalu* menjadikan-Nya tempatku bersandar, bernaung, dan bertawakal di setiap nafasku.

Betapa tak tahu dirinya aku..😭

Hingga satu harapku..

Satu doaku..

Agar Dia selalu membuka pintu maaf untukku yang penuh kekurangan ini, Membimbing hatiku untuk berada pada kebaikan entah kemanapun hati dan kaki ini melangkah. Hidayah-Mu…yang ku pinta..sepanjang hayatku..

Tujuan Pernikahan yang Banyak Dilupakan Pasutri Padahal Amat Penting

wedding details 1

Sahabat Ummi, apa tujuan sebuah pernikahan? Tentunya ada berbagai macam jawaban yang bisa diutarakan. Ada yang tujuannya untuk melahirkan keturunan, ada yang tujuannya untuk menjaga kesucian, tujuan untuk bersenang-senang dengan pasangan. Namun ada satu tujuan pernikahan yang biasanya banyak dilupakan oleh pasutri, apakah itu?

Yap, tujuan menambah kedekatan pada Allah. Tidak banyak pasutri yang mau mengevaluasi pernikahannya, sudahkah pernikahannya itu menambah kedekatan masing-masing diri suami dan istri pada Allah? Atau justru setelah menikah, Allah makin jauh dari hati mereka karena saling sibuk. Yang suami sibuk bekerja, yang istri sibuk mengurus anak.

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl : 72).

Mengapa banyak pasutri melupakan tujuan pernikahan yang satu ini? Penyebabnya berbagai macam, tapi yang paling pasti adalah begitu hebatnya godaan syetan terhadap pasangan suami istri, sehingga mereka berfokus pada hal-hal remeh dan sepele seperti kurangnya penghasilan suami, cemburu buta, posesif, pihak ketiga dan lain sebagainya.

Satu hal lagi, pernikahan menjadi jauh dari Allah karena kurangnya tarbiyah/pendidikan islam dalam diri pasutri tersebut.

Berikut ini beberapa pertanyaan yang bisa kita layangkan pada diri sendiri setelah menikah sekian lama:

1. Apakah ibadah wajib saya menjadi lebih baik dan intens setelah menikah?
2. Apakah hati saya semakin tenang dan tenteram setelah pernikahan?
3. Apakah saya telah menyadari bahwa masalah dalam rumahtangga pasti dirasakan setiap pasutri, memang dihadirkan oleh Allah agar keimanan makin kuat dan pernikahan makin lekat?
4. Apakah saya telah menjalankan semua kewajiban saya sebagai istri/ibu dengan baik?
5. Apakah saya semakin bijak dalam bersikap, ataukah masih sering mementingkan diri sendiri dan sulit mengendalikan ego?
6. Apakah saya menjadi lebih paham ajaran agama setelah menikah, atau justru semakin buta dan tuli dari pemahaman agama?

Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa memperlihatkan apakah pernikahan makin menjadikan diri kita dekat pada Allah (terlihat dari hati yang tenang, ibadah makin intens, sikap yang bijak, bertanggungjawab) atau justru menjauhkan kita dari Allah? Misalnya karena pasangan mengajak berbuat maksiat. Evaluasi diperlukan agar bisa mengetahui posisi kita di hadapan Allah, lalu melakukan berbagai hal untuk mengoreksi dan memperbaiki kondisi tersebut.
Semoga kita senantiasa ingat bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah ujian, termasuk pernikahan, dan bahwasanya mendekat pada Allah merupakan suatu tujuan yang tidak boleh diabaikan.

sumber tulisan: Artikel UMMI

Kegagalan? Rencana Indah dan Pelajaran Berharga Dibaliknya

Setiap orang pasti pernah merasakan kegagalan. Termasuk saya, mustahil saya tidak pernah merasakan kegagalan..
Bahkan banyak sejarah dan fakta yang membuktikan bahwa orang-orang sukses di dunia ini ditempa dengan berbagai macam kegagalan.
Seperti kata pepatah, kegagalan adalah kesuksesan yg tertunda.

Kegagalan yang paling besar dalam hidup.. Ah bukan, lebih tepat kalau saya membahasakannya dengan kegagalan yang paling membekas selama hidup saya.
…adalah saat saya tidak lolos ujian SNMPTN tulis tahun 2010, saya masih teringat saat itu saya menangis di kasur eyang saya, menghadap tembok, membelakangi pintu..
Berharap tidak ada ataupun anggota keluarga saya yang menyadarinya. (Padahal akhirnya semua keluarga tau saya tidak lulus dan tau kalau saya menangis diam-diam, kurang rapi nih acting nya 😂)
Saya berusaha meredam gejolak rasa kecewa, berharap air mata yang turun dapat seiring dengan luntur nya rasa kecewa dalam dada.
Anak baru lulus SMA yang berusaha menyimpan dan menahan gejolak segala rasa yang dirasakan ketika itu.
Lelah, bingung, kecewa dengan diri sendiri, sedih, malu. Semua perasaan itu bercampur aduk dan membuat dada ini penuuh hingga terasa sesak.
(Mungkin yang baca boleh komen: dih lebay, drama korea banget deh, sok melow, dll)
Bukan, ini kisah nyata. Bukan fiktif di novel-novel apalagi cuma drakor. Hahahha..
Begitu lah adanya yang terjadi pada saya ketika itu dan seperti itulah reaksi yang saya berikan ketika menghadapinya.
Tapi sungguh segala rasa yang hati kita pernah sekedar cicipi, rasakan, bahkan yang paling membekas dalam sekalipun.. Semua itu bagian dari proses pendewasaan kita hingga hari ini.

kegagalan
sumber gambar

Cerita di atas adalah sebagian kecil dari perjalanan bernama kegagalan dalam hidup saya. Begitu banyak kegagalan lain yang pernah saya alami selama ini, yang hingga saat ini saya yakini semua itu adalah bagian dari proses panjang yang telah Allah takdirkan untuk saya lalui.
Seberat apapun saat itu rasanya, tetap saja janji Allah yang paling nyata.. bahwa Dia tidak pernah ingkar dalam perkataannya; Dia tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan saya.
Hal itu mungkin yang menjadi energi besar bagi saya untuk bertahan dan melalui setiap masa-masa tersulit yang saya alami.
Keimanan saya diuji.
Di saat paling sulit menurut saya, akankah saya percaya, akankah keimanan saya yang maju menyelisihi hawa nafsu saya atau sebaliknya? Keimanan bahwa Allah tidak pernah mendzolimi hamba Nya, walau seberat apapun kegagalan dan ujian.
Saya percaya suatu hari nanti saya atau siapapun yang belum bisa meraba sisi baik dari kegagalan yang dialami akan menyadari… suatu hari nanti bisa tersenyum penuh syukur bahwa dibalik semua kepahitan dalam kegagalan ada rencana Indah yang Allah persiapkan untuk kita.
Hanya kesabaran, keimanan, dan pantang putus asa yang dapat mengantarkan kita menuju rencana indah tersebut..
Allah pasti melihat usaha kita, Allah pasti mengetahui isi hati kita, Allah pasti mendengar setiap bisik doa kita.
Allah pasti akan mengabulkannya, entah sekarang juga, besok, atau diganti dengan hal lain yang lebih baik dan pantas untuk kita.
Bahkan doa-doa kita yang belum dikabulkan oleh Nya di dunia akan menjadi tabungan pahala bagi kita kelak di akhirat. Menjadi jalan bagi kita untuk semakin mendekat ke Syurga Nya.. Tempat dimana tiada pernah lagi kita bertemu dengan kegagalan sekecil apapun.
Tenang saja, tiada pernah merugi berharap dan bergantung pada Nya, karena Rahman dan Rahim nya terus ada…tiada pernah sirna selama nya.

“Sometimes you have to wait until the final moment in life… To see what life is trying to teach you. You have to wait until the very end.”
-Doctors-

Tips Mengatasi Rasa Cemas

Sebagai seorang manusia sangat wajar jika ada saat-saat dimana kita mengalami rasa cemas.

Rasa cemas sewaktu hendak menghadapi tes/ujian, rasa cemas menanti kepastian, rasa cemas dalam berharap sesuatu, rasa cemas menghadapi situasi atau dalam berinteraksi dengan orang lain, rasa cemas mikir kapan lulus, rasa cemas mikir kapan kerja, rasa cemas mikir kapan jodoh datang #eaaprikitiw, dan banyak lagi rasa cemas karena hal-hal lainnya.

Berikut ini adalah tips-tips yang aku lakukan sepanjang hidupku ketika rasa cemas datang melanda :”

  1. Berdoa alias dzikir

Sudah tertulis di dalam Al Quran bahwa dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang. Langsung praktekin aja konkretnya, biasanya dzikir yang aku baca seperti ini, Hasbiyallaahu Laailaha Illa Huwa ‘Alaihi Tawakkaltu wahuwa Rabbul ‘Arsyil ‘Aadziiim. Tapi dzikir ini aku baca ngga hanya ketika cemas atau takut. Aku baca di pagi dan sore hari atau sehabis shalat sebanyak 7 kali. Dzikir ini pertama kali aku pelajari ketika menonton kajian youtube nya Ustadz Bachtiar Nasir, salah satu ustadz favorite-ku.

Konon katanya dzikir ini adalah dzikir untuk kesedihan, dzikir anti galau, atau semacamnya gitu lah. Sebagaimana riwayat Al Imam Abu Daud Radiyallahu Anhu :

‘Barangsiapa di pagi hari atau di sore hari membaca Hasbiyallaahu Laailaha Illa Huwa ‘Alaihi Tawakkaltu Wahuwa Rabbul ‘Arsyil ‘Aadziiim” sebanyak 7 kali, maka Allah akan melindunginya dari apa yang dirisaukannya, apakah ia membacanya dengan kesungguhan atau tidak dengan kesungguhan” (H.R. Abu Dawud)

Terlebih lagi jika hadirkan makna kalimat itu di saat kita membacanya.

  1. Beli makanan/minuman yang diinginkan

Karena menurut aku, makanan atau minuman kesukaan bisa dijadikan mood booster. Bahagia itu sederhana. Sekotak teh kotak, setangkai eskrim, sekotak nescafe warna biru, sebungkus sari gandum coklat, atau segelas greentea bisa membuat aku lebih bersemangat, positive energy, dan positive thinking.

  1. Tidur

Hahaha maafkan poin yang ketiga ini. but seriously it works for me!! Biasanya klo lagi galau cemas dan aku bawa tidur, meskipun ngga membantu solusi konkretnya tapi setidaknya ketika bangun pikiran lebih adem dan bisa mikir langkah selanjutnya, bisa mikir nyari solusi.

  1. Nyari orang yang bisa diajak bercanda

Bercanda atau bergurau bisa merilekskan otak dan perasaan. Siapa tau disela-sela canda tawa ada diskusi ringan yang bisa memberikan sudut pandang lain dan membuat aku lebih open mind tentang masalah yang menjadi sumber kecemasanku.


Begitulah tips mengatasi rasa cemas ala aku. Maafkan kalau banyak sekali ketidakcocokan di antara kita (saya dengan pembaca), tapi ngga ada salahnya kalau suatu saat dicoba juga. Siapa tau ada yang berhasil hihihi.

The last… Menurut aku sejatinya rasa cemas itu manusiawi, karena manusia adalah makhluk lemah. Tapi jika berlebihan dalam mencemaskan sesuatu, mungkin itu karena adanya kurang kedekatan kita sama Allah. Dengan menjaga hubungan sama Sang Khaliq, berpasrah dan yakin akan ketetapan Nya, niscaya cemas itu sendiri akan berkurang. Karena kita yakin bahwa semua yang terjadi adalah ketetapannya dan tidak ada yang terjadi di luar pengawasan Nya. Dengan menyakini hal itu, tak perlu ada rasa cemas berlebih atau ketakutan yang berlarut..